Cancer, can we live without it?


Benny YP Siahaan
Sore dan malam ini (10/11) saya dan teman-teman kantor ke RS Long Island Jewish (LIJ) di Forest Hills dan Funeral Home di Elmhurst di Queens, New York.  Kami menjenguk seorang diaspora Indonesia di New York  yang sakit keras dan melayat warga Indonesia yang meninggal. Keduanya menghadapi penyakit yang sama: kanker, penyakit yang paling diakuti abad ini dan sampai saat ini belum ditemukan obat yang manjur baik untuk preventif maupun  kuratifnya.
Pak Un, begitu saya memanggilnya adalah teman baik, setia dan jiwa sosial yang tinggi. Tidak heran banyak teman-temannya rajin menjenguk baik di rumah maupun di rawat di RS. Kami dikabari bahwa beliau sudah dalam saat saat terakhirnya akibat penyakit yang dideritanya. Saat merasa waktu sangat cepat, padahal baru bulan Mei 2015 lalu saya dan istri menjenguk beliau setelah dioperasi untuk memotong sel kanker  agar tidak menyebar.
Saat kami jenguk pak Un sudah kurus sekali.  Bu Ling Ling istrinya seperti biasa tabah dan setia mendampingi suami tercintanya hingga disaat –saat terakhirnya. Menyambut kami ramah, beliau membangunkan pak Un yang sudah mulai tidak sadar dan fokus yang menurut bu Ling akibat asupan morfin yang diberikan dokter untuk menahan rasa sakit. “kanker sudah menyebar ke mana-mana, ginjalnya sudah kena dan livernya juga” tutur bu Ling sambil menahan air mata namun berusaha untuk tabah. Sebelum pamit kami menghibur bu Ling untuk tetap tabah dan sabar menghadapi cobaan hidup. Pak Un kiranya Tuhan memberikan kekuatan dan ketabahan atas cobaan ini.
Di Funeral yang kami kunjungi terbaring ibu Setiawati Loppies. Wajahnya seperti tertidur dan nampaknya telah siap Tuhan memanggilnya dan badannya kurus sekali.  Kami di kebaktian penghiburan terharu melihat video keluarga yang memperlihatkan bu Loppies saat sehat maupun saat sakit. Pak Stanley, suami ibu Loppies dan anak-anaknya kelihatan begitu kehilangan atas kepergian sang istri dan ibu tercinta. Semoga bu Loppies beristirahat dengan tenang di rumah Bapa di Surga. Amin.
Di keluarga saya, kanker cervix juga telah mengambil tante Intan, yang kami sayangi. Sebelumnya tante dinyatakan sehat oleh dokter karena sudah lima tahun tidak pernah muncul gejalanya. Namun hanya kurang dari satu tahun saat relapse, kanker ganas itu mengambil tante Intan dari kami.
Dan akhir-akhir ini kami semakin banyak mendengar teman dan kenalan kami yang terserang kanker. Ia menyerang tidak pandang bulu.  Kaya-miskin, tua-muda.
Menurut definisi Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker. Dalam perkembangannya, sel-sel kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya sehingga dapat menyebabkan kematian
Minggu lalu majalah Time edisi 9 November 2015 menurunkan berita yang cukup menghebohkan: Red Meat, Hot Dogs and the War on Delicious. Intinya penyakit kanker berdasarkan penelitian ilmiah banyak disebabkan oleh makanan yang diproses seperti sosis, bacon, daging kornet dll. Hasil penelitian ini, meski sudah banyak yang menduga,  cukup mengejutkan dan akan banyak menimbulkan pro dan kontra terutama dari produsen makanan yang diproses yang dapat dipastikan akan mengeluarkan “penelitian’ tandingan untuk mengamankan produksinya. Seperti halnya asosiasi produsen minuman soda (Coca cola dan Pepsi) di AS menyewa “ilmuwan” untuk menyatakan bahwa tidak ada kaitanya minuman soda dengan diabetes.
Di Indonesia juga kita sebagai bagian kehidupan modern, processed food adalah hampir makanan setiap hari. Mulai dari mi instan, sosis dan lain lainya.
Menurut data badan kesehatan Dunia WHO tahun 2014, kematian akibat kanker di Indonesia sebesar 1,551.000 jiwa sejak tahun 2000 dengan pendudul 247 juta jiwa. Korban pria lebih banyak dibanding wanita dan untuk wanita umumnya akibat kanker payudara sementara untuk pria banyak terkait dengan pernafasan dan paru-paru. Sementara AS dengan penduduk 336 juta jiwa, jumlah kematian akibat kanker sejak tahu 2000 adalah 2,656.000  yang lebih banyak memakan korban pria akibat kanker prostat dan wanita akibat kanker payudara.
Masyarakat internasional saat ini sudah dapat meminimalisir penyakit penyakit yang menjadi momok sebelumnya seperti polio, cacar dll. Apakah masyarakat dunia dapat kembali menemukan vaksin atau obat yang manjur untuk penyakit yang mengerikan ini? Nobody knows.
Seperti dikatakan bahwa penyakit kanker terkait dari gaya hidup dan pola makan. Merokok dan makanan fast food merupakan salah satu biang keladi penyebab kanker. Seperti halnya AIDS juga umumnya disebutkan karena gaya hidup seperti seks bebas dan tidak berpelindung. Akhirnya kita kembali ke kita semua. Namun kanker lebih mengerikan karena banyak yang  sudah melakukan hidup sehat dan hidup preventif untuk menghindari kanker, terkadang terkena kanker juga. Nampaknya dunia kedokteran perlu lebih keras lagi mencari kuratif penyakit yang mengerikan ini.
Sore ini saya mendengar pak Un  mendapat sakramen perminyakan (sakramen untuk orang yang sakit berat) dari pastur, dan nampaknya keluarga sudah mulai merelakan yang terbaik untuk Pak Un. Selamat jalan bu Ati Loppies dan doa kami untuk Pak Un.

 
                                       New York, 11 November 2015 at 16.48