Metodologi, Pesan dan Implikasi serangan teror di Paris


Oleh Benny YP Siahaan

 Serangan teroris kembali memilih Paris pada hari Jumat (13/11) yang menelan korban setidaknya 129 jiwa meninggal dan 352 luka-luka. Serangan ini merupakan yang kedua pada kota Paris setelah sebelumnya pada 7-9 Januari 2015. Kelompok teroris ISIS menyatakan bertanggung jawab atas serangan di Paris. Pemerintah Perancis mengumumkan tiga hari berkabung nasional atas kejadian itu.

Pesan dan metodologi  serangan teroris di Paris

Sebagaimana aksi teroris lainnya serangan Paris dipastikan memiliki pesan yang ingin disampaikan kelompok teroris kepada pihak lawan.  Umumnya aksi teror dilakukan karena  kelompok teroris tidak sanggup melawan kekuatan negara yang menjadi lawannya dan berharap melalui aksi terror mereka dapat memberikan dampak luka psikologis yang dalam kepada lawan.


Dalam pesan ISIS disebutkan kota Paris merupakan pilihan utama ISIS karena serangan udara belakangan ini di wilayah-wilayah caplokan ISIS  dilakukan oleh Perancis. Selain itu, pesan (terror) psikologis yang ingin disampaikan ISIS  bahwa setelah serangan awal Januari 2015 lalu ternyata Paris masih tetap tidak aman dan Pemerintah Perancis tidak mampu mencegahnya.

Metodologi dan teknik serangan teror berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan konteks jaman yang dihadapi dan mengambil inspirasi baik dari aksi terror sebelumnya maupun dari literature dan film. Serangan teroris Paris baru-baru ini maupun yang sebelumnya pada Januari 2015 nampaknya  banyak terinspirasi dari kejadian sejumlah penembakan massal di AS beberapa  tahun belakangan ini yang  banyak terjadi di tempat publik seperti sekolah, pusat perbelanjaan bahkan bioskop. 

Sementara target serangan di Paris kali ini masih memilih tempat publik seperti   stadion, café , gedung konser dan restoran. Yang membedakan kali ini adalah, selain senapan mesin, teroris  memakai rompi berbahan peledak sebagai bom bunuh diri dan serangan dilakukan secara terkoordinasi di berbagai tempat dalam waktu yang hampir bersamaan.

Ditengarai serangan 11 September 2001 terinspirasi dari film Executive Decision (1996) yang berisi tentang pembajakan pesawat  dan berencana menabrakkannya ke Gedung Putih. Bahkan aksi bom bunuh diri yang banyak dipraktikan oleh teroris asal Timteng dan  dewasa ini identik menjadi bagian aksi teroris jihadis namun sebenarnya terinspirasi dari serangan bom bunuh diri yang dilakukan oleh pemberontak separatis  Tamil terhadap Srilanka pada tahun 1970-80an.

Implikasi ke depan
Serangan teroris Paris akan memberikan banyak implikasi. 

Pertama, hal yang cukup  mengkhawatirkan dari kejadian Paris adalah trend  teroris hanya menggunakan senapan mesin ringan dan bom rompi yang dari segi biaya dan teknologi tidak mahal dan sulit dilacak terutama di negara-negara yang penggunaan senjata api tidak terlampau ketat.

Selain itu, serangan yang dilakukan pada multi-target mengingatkan kita pada serangan 11 September 2001 yang tidak hanya menarget gedung World Trade Centre (WTC) New York tetapi juga Pentagon di Virginia dan Gedung Putih di Washington DC. Namun kesemuanya itu adalah symbol-simbol yang saat ini dijaga ketat. Untuk aksi teroris Paris mereka tidak memilih symbol seperti Menara Eiffel yang tentunya akan sulit diserang karena dijaga ketat. Oleh karenanya mereka memilih restoran dan konser music serta stadion yang juga banyak didatangi pengunjung. Yang cukup aneh adalah kenapa penjagaan stadion tidak begitu ketat sehingga senjata dan sabuk bom bisa lolos.  Selain itu Presiden Hollande juga menonton pertandingan di stadio itu.

Akibatnya, negara-negara yang berafialiasi dengan Barat mulai was-was dengan kejadian Paris. Sebagai contoh sehari setelah kejadian Paris kepolisian New York (NYPD) segera mengumumkan agar warga kota New York untuk berhati-hati ditempat keramaian. Sabtu sore (14/11) NYPD mengerahkan pasukan ke tempat-tempat pariwisata seperti Times Square untuk berjaga-jaga.

Oleh karenanya sejumlah negara yang akan menjadi tuan rumah dari pertemuan-pertemuan tingkat tinggi yang akan dihadiri  Presiden AS, EU maupun Rusia akan bekerja ekstra keras akibat kejadian di Paris. Misalnya  Filipina yang akan menjadi tuan rumah pertemuan APEC pada 18-19 November,  Turki sebagai tuan rumah pertemuan G-20 di Antaliya pada 15-16 November 2015 serta Malaysia sebagai tuan rumah KTT East Asian Summit (EAS) pada 21-22 November di Kuala Lumpur. Yang agak serius mungkin adalah kota Paris akan menjadi tuan rumah pertemuan KTT Perubahan Iklim (COP 21) pada 30 November -11 Desember 2015.

Kedua, kebijakan terhadap  pengungsi Timteng ke Uni Eropa jelas akan terpengaruh akibat kejadian di Paris. Negara-negara Uni Eropa yang yang awalnya tidak suka dengan derasnya arus pengungsi Timteng ke Eropa pasti akan menjustifikasi serangan Paris kebijakan mereka untuk  memperketat jumlah pengungsi yang masuk ke wilayah mereka. Bahkan, dilaporkan bahwa salah satu teroris di Paris adalah “pengungsi” Suriah yang masuk Perancis melalui Yunani.

Ketiga, terlepas dari kejadian di atas yang menjadi korban adalah rakyat Syria dan penduduk kota Paris mereka adalah korban yang tidak berdosa dari tindakan tindakan politik yang diambil pemerintahannya masing-masing. Terlepas dari itu aksi Paris  ini merupakan tindakan yang sangat kejam dan harus dikutuk karena memakan jiwa-jiwa tidak berdosa.

Keempat, serangan Paris juga akan  menjadi inspirasi elemen-elemen teroris dibelahan dunia lain melihat kesuksesan mereka. Indonesia juga tidak akan terlepas dari hal ini. Sekarang bagaimana kita menghadapi hal ini? Dewasa ini serangan terorisi dapat terjadi dimana saja terutama tempat publik dan tempat tempat yang menjadi simbol-simbol dari lawan.

Oleh karenanya, untuk melawan dan mencegak tindak terorisme kiranya tidak cukup menjadi tanggung jawab aparat namun juga tanggung jawa kita semua. Dan hal itu dapat dimulai dari hal yang kecil-kecil misalnya dengan segera melaporkan hal-hal yang mencurigakan  kepada aparat keamanan setempat. Namun demikian, kiranya serangan Paris dan implikasinya tidak menjadikan kita paranoid.

New York, 14 November 2015